Saat ini, pengecer juga tidak mengalami kesulitan mendapatkan gula dari distributor, karena setiap hari hanya diperbolehkan membeli dua karung saja. Sementara permintaan konsumen di Batam cukup tinggi. Pedagang lain di pasar toss 3000 juga mengungkapkan, bahwa harga jual saat ini tergantung dari harga dari distributor.
Di Pasaraya Mitra Raya Batam Center salah satu kios kelontong yang berada diBlok B No 03, A. Suryowati selaku pemilik mengatakan bahwa harga gula pasir eceran berkisar Rp 11 ribu hingga Rp 11.500 ribu.
"Karena kita memperoleh harga dari distributor juga tinggi. kita ambil dari distributor dengan harga Rp10.600 per kilogramnya atau Rp530 ribu per karung. Dengan isi satu karung, 50 kg gula namun untuk mendapatkan gula impor dari distributor juga tidak terlalu sulit, bahkan masih ada sedikit stok untuk awal tahun depan, namun masih dibatasi, jadi kita sebagai pengecer bisa menjual juga tergantung dari harga distributor,” katanya.
Menurut para pedagang, harga gula yang relatif tinggi itu sudah berlangsung sejak satu bulan yang lalu. Juga menjelang Natal lalu, meski harga relatif tinggi, pasokan dari distributor masih lancar. Sehingga, tidak ada kelangkaan. Para pedagang mendapatkan informasi bahwa stok gula sedikit menipis.
Masih tingginya harga dari distributor, membuat para pedagang tidak bisa mengikuti aturan dari pemerintah yang menetapkan harga gula import tidak lebih di atas Rp. 10 ribu dan minimal dijual dengan Harga Eceran Terendah (HET) Rp. 8.500. Gula import yang direncanakan pemerintah bisa menekan harga ternyata masih jauh dari harapan terutama bagi masyarakat kecil.
Dua importir yang dinyatakan memenuhi persyaratan dan lolos verifikasi oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam, adalah PT Batam Harta Mandiri (BHM) dan PT Pembangunan Kepri. Dari delapan yang mengikuti seleksi untuk mengimport gula pasir sebanyak 6 ribu ton gula. Sebanyak 6 ribu ton gula tersebut masing-masing untuk konsumsi Batam lima ribu ton, Bintan 500 ton, dan Karimun 500 ton. BP Batam diberi waktu mengimpor gula tersebut sampai April 2010.(ar)
















































