Jodoh – Sejumlah umat Budha di Batam maupun Kepri menghadiri perayaan Ulambana di Wihara Amitabha Jodoh (1/8) untuk mendoakan para leluhur antar sesama manusia dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Ulambana yang digelar setiap tahun tersebut, bertepatan dengan bulan 7 hari ke 15 berdasarkan penanggalan China atau 1 Agustus 2011 penanggalan Masehi.
Humas Wihara Amitabha Jodoh Nadi didampingi ketua panitia upacara Ulambana Tjong Kui mengatakan, Wihara Amitabha selalu menggelar upacara Ulambana setiap tahunnya. Sedangkan pada kesempatan kali ini pengurus Wihara Amitabha menggelar upacara Ulambana selama satu minggu dengan upacara kebaktian serta doa bersama yang berbeda setiap harinya.
“Hal ini bertujuan untuk mendoakan para leluhur yang telah tiada, sekaligus untuk mendoakan bangsa Indonesia dan sesama umat manusia diatas muka bumi,” ucap Nadi.
Menurutnya, upacara Ulambana kali ini ada dua kategori upacara kebaktian yakni pembacaan sutra pertaubatan “Liang Huang Pao Chan” dan pemujaan Dewa langit “Ta Kong Thien”, guna mensucikan diri serta meminta dewa langit agar diberi kebahagiaan, kesejahteraan dan perdamaian di dunia.
Tjong Kui menambahkan bulan tujuh yang identik dengan sembahyang hantu dalam artian tidak baik untuk menggelar upacara keagamaan. Meski demikian dalam ajaran Budha mengatakan bulan 7 merupakan bulan yang penuh berkah dan bulan yang sangat Baik.
“Bulan 7 merupakan bulan yang baik untuk banyak berbuat kebajikan bagi orang lain” tegasnya.
Ditambahkannya, serangkaian doa bersama kali ini juga mengundang 10 orang Bihkku Sangha dari Siamen China yang dipimpin oleh Bhikku “Hui Phu” dan beberapa bhikku sangha lainnya dari Batam.(ar)
Humas Wihara Amitabha Jodoh Nadi didampingi ketua panitia upacara Ulambana Tjong Kui mengatakan, Wihara Amitabha selalu menggelar upacara Ulambana setiap tahunnya. Sedangkan pada kesempatan kali ini pengurus Wihara Amitabha menggelar upacara Ulambana selama satu minggu dengan upacara kebaktian serta doa bersama yang berbeda setiap harinya.
“Hal ini bertujuan untuk mendoakan para leluhur yang telah tiada, sekaligus untuk mendoakan bangsa Indonesia dan sesama umat manusia diatas muka bumi,” ucap Nadi.
Menurutnya, upacara Ulambana kali ini ada dua kategori upacara kebaktian yakni pembacaan sutra pertaubatan “Liang Huang Pao Chan” dan pemujaan Dewa langit “Ta Kong Thien”, guna mensucikan diri serta meminta dewa langit agar diberi kebahagiaan, kesejahteraan dan perdamaian di dunia.
Tjong Kui menambahkan bulan tujuh yang identik dengan sembahyang hantu dalam artian tidak baik untuk menggelar upacara keagamaan. Meski demikian dalam ajaran Budha mengatakan bulan 7 merupakan bulan yang penuh berkah dan bulan yang sangat Baik.
“Bulan 7 merupakan bulan yang baik untuk banyak berbuat kebajikan bagi orang lain” tegasnya.
Ditambahkannya, serangkaian doa bersama kali ini juga mengundang 10 orang Bihkku Sangha dari Siamen China yang dipimpin oleh Bhikku “Hui Phu” dan beberapa bhikku sangha lainnya dari Batam.(ar)
